Misteri Akun Facebook Pembongkar Kasus Penembakan LP Cebongan

Mayat salah satu korban penembakan di LP Cebongan, Benyamin Sahetapy alias Decky. Ini merupakan salah satu foto yang diunggah di akun Facebook Idjon Djanbi.

Mayat salah satu korban penembakan di LP Cebongan, Benyamin Sahetapy alias Decky. Ini merupakan salah satu foto yang diunggah di akun Facebook Idjon Djanbi.

Sleman, BeritaPrima.com — Beberapa hari setelah penyerangan berdarah di Lapas kelas IIB Sleman, muncul sebuah catatan tentang peristiwa penyerangan, yang tersebar luas melalui situs jejaring sosial Facebook. Catatan dari akun Facebook Idjon Djanbi, memaparkan kronologi kejadian beserta telaahan, mengenai siapa dalang di balik peristiwa berdarah tersebut. Tak hanya itu, akun ini juga memuat foto-foto keempat korban setelah mengalami penembakan yang brutal itu.

Catatan analisis penyerangan di Lapas Sleman melalui Facebook, tersebar begitu cepat. Lantaran, kasus tersebut sedang menjadi perhatian publik Tanah Air. Spekulasi pun muncul mengenai siapa di balik pemilik akun bernama Idjon Djanbi.

Hamid ST MEng dari Pusat Studi forensika Digital (PusFid) UII menjelaskan, penelusuran pemilik akun Facebook bisa dilakukan, jika si pemilik akun sempat mendaftarkan alamat email di situs selain Facebook. Ini bisa menjadi petunjuk untuk melakukan profiling pemilik akun, dengan membandingkan maupun menganalisa di situs lainnya.

Masalahnya, jika akun email yang digunakan di Facebook ternyata benar-benar baru dan belum digunakan di situs lain, maka pelacakan sulit dilakukan. “Sulit sekali kalau itu benar-benar masih baru. Belum lagi, identitas yang dibuat kan mudah dipalsukan. Jika identitasnya benar, mudah saja untuk menghubungi pihak Facebook supaya mengungkap identitasnya,” jelas Hamid, Sabtu (30/3/2013).

Facebook, lanjutnya, sangat terbuka terkait masalah kejahatan di dunia maya. Terlebih, jika melihat latar belakang masalah dan siapa yang memintanya. Jika itu diminta oleh lembaga semisal kepolisian, Hamid yakin seluruh data yang tersimpan di server Facebook bisa diberikan.

Hal yang sama pernah dilakukan ketika menyelidiki siapa yang mengunggah video porno mirip artis beberapa waktu lalu. Bedanya, profil akun yang mengunggah memang bukan akun anonim. Melalui bantuan pihak Facebook, bisa diketahui dengan mudah siapa yang pertama kali mengunggahnya. “Nah, kalau akunnya anonim, pasti akan sulit sekali dilacak,” ucapnya.

Sebagaimana diberitakan, akun atas nama Idjon Djanbi membeberkan kronologi kasus penembakan di Lapas Cebongan yang sama sekali berbeda dengan apa yang disampaikan pihak kepolisian. Kronologi yang disampaikan Idjon cukup meyakinkan. Apalagi dilengkapi dengan foto-foto korban ketika baru saja mengalami penembakan. Disitu masih nampak selongsong peluru bertebaran di sekitar mayat korban. Lengkapnya lihat di tautan note Idjon Djanbi di facebook ini.

Catatan itu berisi cerita dibalik kasus penembakan yang diduga terkait kartel narkoba di ligkungan polisi sendiri. Dalam catatan tersebut, penulis menjelaskan soal kronologi penyerangan lapas yang berbeda dari yang dimuat media massa. Dalam catatan ini, Idjon mengungkap sejumlah besar bukti yang diklaimnya bertolak belakang dengan keterangan yang dilansir Polda DIY, misalnya soal pemecatan Bripka Juan dari kepolisian.

Menurut Idjon, Bripka Juan justru baru dipecat dari kedinasan beberapa saat sebelum dipindah ke lapas cebongan dalam sidang yang berlangsung singkat (hanya 5 menit). Tidak hanya itu ia juga mengungkap mengenai adanya personel polisi aktif yang terlibat dalam pembunuhan Sertu Santoso, anggota Kopassus Grup 2 Parako, Karang Menjangan Solo, tapi hingga kini tidak diungkap ke publik.

Dalam analisisnya, penulis menyatakan Kopassus tidak menggunakan senapan SS-1 Pindad dan AK-101 yang diduga digunakan para penyerang untuk mengeksekusi para tersangka pengeroyokan Serka Santoso.

Uniknya, catatan tersebut juga memuat foto korban paska penembakan dan berbagai analisa arah tembakan dan luka-luka korban yang selama ini tidak pernah mencuat di media. Diduga kuat bahwa pemilik akun juga memiliki aksis ke data perkara.

Ada dugaan bahwa nama Idjon Djanbi adalah nama samaran. Dalam akun itu menyebut dirinya bernama lengkap Mayor Mochamad Idjon Djanbi, mantan Kapten KNIL yang pernah bergabung dengan Korps Special Troopen dan pernah bertempur dalam perang dunia II. Dalam biodatanya, ia menyebut dirinya sebagai Komandan Pertama Kopassus yang dibentuk Melalui Instruksi Panglima Tentara dan Teritorial III No. 55/ Inst / PDS /52 tanggal 16 April 1952 dengan nama KESATUAN KOMANDO TERITORIUM III yang merupakan cikal bakal “Korps Baret Merah ”.

Bantahan Polri

Pihak Polri pun langsung membantah kronologi yang disampaikan Idjon Djanbi.  Menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Suhardi Alius, kronologi yang beredar di facebook itu tidak benar. “Imbauan saya agar masyarakat tidak terpancing dengan pengalihan isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” katanya di Jakarta, Sabtu (30/3/2013).

Lebih jauh, terang Suhardi, masyarakat yang mendapati informasi seputar fakta dan data insiden di LP Cebongan disarankan untuk memberi pernyataan secara resmi. Nantinya keterangan tertulis itu akan didalami secara terpisah.

Sejauh ini penyidik yang diturunkan dari Mabes Polri masih berada di Yogyakarta. Polri belum berani angkat bicara terhadap temuan dilapangan. Siapa pelaku dan apa motif serangan brutal itu, tetap mengundang tanya. “Kalau sudah ada progres akan kami sampaikan dan dirilis,” kata Suhardi.

Bantahan serupa juga disampaikan anggota Komisi Kepolisian Nasional, Hamidah Abdurachman. “Apa yang ditulis itu tidak benar, polisi tidak memiliki motif untuk melakukan hal itu,” cetusnya.

Karena itu, Hamidah berharap polisi tetap mendahulukan penyelidikan kasus utama, tanpa dipengaruhi catatan di akun Facebook itu. Dikhawatirkan, perhatian polisi akan terpecah dan menghambat proses penyelidikan.

“Kalau pun mau ditelusuri, saya yakin polisi memiliki skala prioritas, dan akan mendahulukan menyelesaikan penyelidikan yang mana dulu,” tuturnya.

Meski begitu, Hamidah masih menyimpan tanda tanya besar, terkait asal usul materi-materi yang diunggah dalam akun Facebook Idjon Djanbi. Terutama, materi berupa foto yang posisinya berada di dalam garis polisi. Hamidah enggan berspekulasi siapa yang mengambil foto tersebut. Namun, dipastikan bahwa seharusnya foto-foto demikian hanya dimiliki oleh kalangan terbatas.

Categories: CoverNews, Hotnews

About Author

beritaprima.com

BeritaPrima.com merupakan portal berita utama nasional yang lebih mengedepankan aktualitas dan ketajaman dalam mengungkapkan fakta di lapangan.

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*